Minggu, 08 Desember 2013

Selamat Hari Ibu


Senjapun datang, kupandangi langit oranye kekuningan yang indah itu, gradasi warna-warna nan elok. Senja memang waktu yang indah dimana tenggelamnya pelita dunia ini, waktu dimana bergantinya antara malam dan siang, dan pastinya waktu untuk melaksanakan sholat maghrib.

          Senjapun berganti malam, jam menunjukkan pukul 18.30, setelah menunaikan solat maghrib, saatnya perut ini untuk diisi, kaki mungilku melangkah menuruni tangga menuju ke ruang makan, disana keluargaku sudah berkumpul.

          “Ayo makan malam!!” Seru Abi pada kami semua.

          “Iya Abi.” Jawabku.

          Kami sekeluarga menikmati rezeki yang telah Allah berikan pada kami, syukron ya Allah Engkau masih memberikan kami nikmat yang berlimpah, hamba tau masih banyak orang di luar sana yang tak seberuntung hamba, umi selalu mengingatkan itu padaku.

          Oh iya! Sebelumnya perkenalkan namaku Zafina El-Arish, lahir di Balikpapan tanggal 13 september 2001, dan beruntungnya aku punya kedua orang tua yang selalu sayang padaku, alhamdulillah. Mereka berdua yang selalu mengisi hari-hariku dan mengisi relung-relung hatiku saat sedih, mereka jugalah yang selalu memberikanku motivasi di saat aku terjatuh. Terutama umi, beliau selalu mengingatkanku jika salah, mengajarkanku saat aku tak tahu, dan membantuku menghadapi kesulitan. Walaupun sering membuat beliau marah, beliau tetap menyayangiku. Sekarang aku duduk di bangku SMP kelas 7A. Kata orang aku termaksud golongan orang-orang cerdas dan pintar, tapi menurutku biasa aja sih. ^^

***

          Waktu terus berjalan fajarpun tiba, jam weker ungu milikku berbunyi nyaring, pertanda waktu untuk bangun dari tidur.

          Kringggg!!!!!!!!!!!!!!

          “Huah..Udah jam lima nih! Sholat subuh dulu deh!” Seruku.

          Ku basuh wajahku dengan air keran dikamar mandi kamar, kusucikan diri dengan berwudhu. Ternyata umi telah menunggu di musholla kecil rumah kami. Kudirikan sholat subuh dengan khusyuk bersama dengan umi, tentu saja abi pergi ke masjid. Tak lupa kupanjatkan do’a usai sholat.

          “Ya Allah berilah hamba Mu ini kemudahan dalam hal apapun, jadikanlah semua yang sulit menjadi mudah selagi itu masih tetap di jalan Mu, lancarkanlah rezeki dan berilah kepanjangan umur bagi orang tua hamba, dan berilah hamba kesempatan untuk bisa berbakti pada mereka terutama pada umi. Aamiin~.”

          Saat pagi menjelang, aku segera mempersiapkan buku-buku pelajaran sekolah dan lekas mandi. Diruang makan nampak abi dan umi sudah berkumpul, pagi itu umi memasakkan nasi goreng seafood kesukaanku dan abi, rasanya fantastic!!! Enaaaaaak banget!!! Selesai menyantap sarapan aku dan abi berangkat bersama. Abi yang selalu mengantarku ke sekolah tiap pagi begitu juga yang menjemput saat pulang sekolah. Sesibuk-sibuknya di kantor, abi pasti selalu menyempatkan waktu untuk menjemputku.

          Tiba di sekolah aku langsung pergi menuju kelas melewati koridor sekolah yang panjang. Tapi nampaknya di papan pengumuman sekolah ada pengumuman yang baru ditempel,  rasa penasaranku muncul. Sebaiknya aku melihatnya terlebih dahulu.

          “Ada apa sih ramai-ramai??” Tanyaku keheranan melihat kerumunan anak-anak berdiri di papan pengumuman.

          “Itu loh Fin, ada lomba olimpiade IPA se-Balikpapan tingkat SMP, kamu wajib ikut Fin, kamu kan pinter tuh!” Jawab Naumi, teman sekelas sekaligus teman sebangkuku.

          “Apaan sih Naumi! Males ah ikut begituan.” Balas ku cuek sembari meninggalkan Naumi menuju kelas.

          “Lumayan loh hadiahnya, duit Fin, duit!!” Kata Naumi meyakinkan.

          Aku sedikit ragu untuk mengikuti lomba itu atau tidak. “Nanti deh aku coba daftar.”

          “Tanpa daftarpun, pasti kamu diterima, secara Zafina anak terpintar di kelas 7A, bintang kelas cuy!”  Seru Naumi membanggakan diriku.

          “Iya Naumi, cerewet deh!”

          Tak lama setelah aku dan Naumi masuk kelas, bel pelajaran pertama berbunyi. “Kringgg!!!!!!!” Aku dan siswa/siswi lain segera mempersiapkan buku kami dan memulai pelajaran. Tiga jam kemudian jam pelajaran pertama usai, aku dan Naumi bergegas pergi ke kantin.

          “Mang, mie ayamnya dua estehnya juga dua yaa!!” Pesan Naumi.

          “Siip neng!” Pak Somat mengacungkan jempol kearah kami.

          “Seru juga ya kalau bisa menang terus dapatin hadiahnya, yaaa.. Lumayan lah buat bisa tambah-tambah uang jajan, oh iya! Bentar lagikan hari ibu kalau aku bisa menang berarti aku bisa beliin umi hadiah, wahh.. Pasti umi bangga deh sama aku” gumamku.

          Aku tidak menyadari kalau Pak Somat datang dengan membawa pesanan kami, tampak mie ayam tersebut masih panas, karena asap yg mengepul dari kuahnya sangat banyak. “Ini neng pesanannya” kata Pak Somat si penjual di kantin, sembari menaruh mangkuk mie ayam di meja kami.

          “Fin? Woy! Pesanannya udah datang tuh!” Seru Naumi sambil menepuk pundakku.

          “Eh? Kenapa?” Tanyaku yang baru tersadar dari khayalku.

          “PESANANNYA UDAH DATANG!!!” Jawab Naumi dengan nada yang cukup tinggi.

          “Biasa aja donk!”

          “Habisnya kamu melamun terus sih!”

          “Iya, ya udah deh kita makan yuk!”

          Pulang sekolah aku langsung menuju ke kamarku yang serba ungu, usai berganti baju aku langsung turun dan membantu umi beres-beres rumah dan mempersiapkan makan malam.

          “Umi! Fina bantu ya?” Tawarku pada umi.

          Umi tersenyum lembut. “Boleh, Fina nyapu aja yaa.. Nanti kalau udah, susul umi ke dapur kita siapin makan malam.”

          “Iya umi.” jawabku.

          Tiap hari aku selalu membantu umi seusai sekolah beres-beres rumah, menyiapkan makan malam. Semua yang bisa aku bantu ya.. Aku kerjakan, karena aku ingin sekali menjadi anak yang berbakti pada orang tua terlebih lagi pada umi. Nah! Sebentar lagikan hari ibu aku ingin sekali memberikan hadiah pada umi, setelah kupikir-pikir besok aku akan mendaftar untuk ikut lomba Olimpiade IPA, aku harap aku bisa lolos dan menjadi juara. Aamiin~

***

          Keesokan harinya di sekolah aku pergi menemui Pak Mujito untuk mendaftarkan diri. Aku harap aku bisa ikut lomba itu, karena tidak semua bisa ikut. Sebelumnya harus diadakan tes tentang materi yg dilombakan. Yang mendapat nilai tes terbaik, maka dialah yang akan dipilih sekolah untuk menjadi wakil dalam lomba olimpiade IPA. Ternyata banyak juga yang berminat mengikuti tes, Pak Mujito sampai bingung mengatur anak-anak yang mendaftarkan diri.

          “Aku harus bisa ikut, aku pasti bisa demi umi!! Cayoo”. Sugestiku dalam hati.

          Tespun aku lakukan. Pengumumannya akan di tempelkan di papan pengumuman. Keluar dari ruangan tes aku merasa gugup, “Bisa gak ya? Tapi aku gak boleh pesimis seorang Zafina El-Arish pasti mampu melakukannya!”.

          Hasil tes pun telah selesai, Pak Mujito mengumumkan bawah hasil tes dapat dilihat di papan pengumuman melalui speaker sekolah. Aku dan Naumi pergi bersama ke koridor sekolah untuk melihat pengumumannya, aku sangat berharap namaku tercantum di dalamnya. Aku membiarkan Naumi yang melihat papan pengumuman terlebih dahulu. “Apakah ada namaku yang tercantum di dalamnya?” Tanyaku pada Naumi.

          Naumi berbalik dan tersenyum puas, diapun berlari kearahku. “Selamat ya Zafina, kamu memang hebat!” Seru Naumi sambil mengacungkan jempolnya padaku. Mataku mulai berair dan meneteskan air mata. Tak kusangka dari tiga kelas yg mendaftar akulah yang terpilih, Alhamdulillah.... Akupun mulai bernafas lega. Kini saatnya mempersiapkan diri untuk mengikuti olimpiade IPA itu. Perjalanan pulang sekolah aku terus mengukir senyum di wajahku, akan kuceritakan berita gembira ini pada umi.

          “Asslamualaikum..Umi...Umi..” Panggilku dari luar. Aku sangat tidak sabar memberitahu umi.

          Wajah umi muncul dari dalam, “Waalaikumsalam, wah! Anak umi terlihat bahagia sekali, ada apa?”

          Aku berlari memeluk umi. “Umi Fina berhasil, Fina bisa ikut lomba olimpiade IPA se-Balikpapan tingkat SMP, Fina hebat kan??”

          “Wah, alhamdulillah. Iya anak umi memang paling hebat! Salut Umi! Kalau begitu mulai sekarang Fina harus mulai sungguh-sungguh dalam belajar, kalau Fina ikutin syarat-syarat umi, insyaAllah  Fina menang deh!”

          “Iya deh umi Fina bakal jadi anak sholeh, mulai bekerja keras, dan sungguh-sungguh dalam belajar, Fina akan menjadi yang terbaik dan Fina ingin jadi anak kebanggaan umi. Fina janji!”

          Malam tiba akupun mulai membuka-buka buku IPA, kupelajari beberapa materi yang kira-kira akan keluar pada saat Olimpiade. Aku sudah janji pada umi akan memberikan yang terbaik dan menjadi anak kebanggaan umi, aku harus menepati janjiku itu.

***

          Waktu terus berjalan hari-demi hari ku lewati hingga hari yang kutunggu-tunggupun datang. Yup! Hari dimana olimpiade itu berlangsung. Sebelum pergi, aku lebih dulu meminta do’a pada umi.

           “Umi hari ini insyaAllah Fina akan jadi yang terbaik dan Fina janji akan menang untuk umi, jadi do’ain Fina ya...”

          Umi memeluk dan mengecup kepalaku lembut. “Fina gak harus menang cukup dengan berusaha yang terbaik aja umi sudah senang Allah tau yang mana yang lebih baik, Allah melihat dari usaha manusia  jadi kita tinggal berusaha saja, hasilnya Allah yang akan menentukan Allah akan memberikan keputusan yang terbaik untuk Fina, umi akan selalu mendo’akan Fina kapanpun dan dimanapun pasti!”

          Setelah mendapatkan do’a dan beberapa motivasi aku jadi lebih percaya diri. Kulangkahkan kaki mungil ini dengan langkah yang pasti dan percaya diri. Sampai di tempat lomba aku mulai tegang tapi aku langsung teringat kata-kata yang di ucapkan umi padaku. Sesi pertama lomba masih dalam bentuk tanya jawab di kertas, nanti yang mendapat nilai tertinggi yang akan masuk ke final. Seiring berjalannya waktu kujawab semua pertanyaan itu dengan pasti hingga semua soal telah ku jawab. Aku menunggu pengumuman siapa yang masuk ke final. Tak kusangka setelah aku melihatnya namaku tercantum dalam lembar pengumuman. “Alhamdulillah aku masuk final!!!” Semi final diadakan hari itu juga. Sesi kedua adalah sistem cerdas cermat, aku merasa deg-degan tapi aku gak boleh pesimis, babak pertama telah kujalani dengan baik maka yang kedua juga harus yang terbaik!

          Hingga tiba saatnya pertanyaan terakhir di bacakan aku harap aku bisa menang karena ada anak yang skornya sama dengan aku, karena itu ini adalah pertanyaan penentu siapa yang lebih cepat menjawab maka dialah pemenangnya. Dengan Bismillah aku mulai menyimak pertanyaan tersebut dan detik-detik terakhir aku langsung cepat menekan bel dan mulai menjawabnya, ternyata jawabanku benar!!!!!!!!! Saat itu aku meneteskan air mata aku berhasil menepati janjiku pada umi. Namaku dipanggil keatas panggung untuk menerima hadiah berupa piala dan uang tunai yang jumlahnya memuaskan bagi seumuranku. Berita gembira ini akan kubawa pulang dan kuceritakan pada umi. Beberapa menit kemudian abi datang untuk menjemputku.

          “Abi!!! Lihat aku berhasil! Aku menang juara satu abi!!” Seruku sambil memamerkan pialaku pada abi.

          “Wah anak abi hebat! Kalau gitu kita pulang yuk!” Abi tersenyum bangga kearahku. Dia langsung membukakan pintu mobil agar aku bisa masuk kedalamnya.

          “Tunggu abi, aku mau mampir dulu beli hadiah untuk umi.” Cegahku.

          Abi diam beberapa saat, wajahnya tidak menampakkan senyum ceria seperti tadi lagi. “Kita langsung pulang aja ya..”

          “Loh abi? Kenapa? Mampir bentar aja ya..” Tanyaku bingung melihat sikap abi. Kenapa abi tidak membiarkan aku membeli hadiah buat umi?

          “Gak usah ya Fina” kata abi halus.

          Dengan perasaan kecewa aku melangkah menuju mobil, kenapa tidak boleh? Kan niat ku baik? Apa abi sedang sibuk sehingga harus cepat kembali kekantor? Gumamku dalam hati. Ya sudah deh besok saja, kan hari ibunya besok, aku akan mempersiapkan baik-baik rencanaku ini. Aku akan membantu umi, memasakkan umi masakan yang umi suka, yang terakhir aku akan beri umi hadiah yang kubeli dari hasil jerih payahku sendiri wah! Pasti umi senang deh!

          Sesampainya aku dirumah, aku merasa ada yang aneh. Kenapa rumahku ramai sekali? Kenapa ada bendera kuning di mana-mana? Ya Allah apa ini? Akupun turun dari mobil, kuperhatikan orang-orang di sekitarku mereka memakai baju serba hitam dan memandangiku. Aku juga mendengar suara tangisan dari dalam rumah dan lantunan surat Yasin.

          “Ada apa ini? Siapa yang meninggal? Loh Naumi kok ada di sini?” Tanyaku heran campur panik.

          “Yang tabah ya Fin, kamu harus selalu semangat” kata Naumi sambil memelukku.

          “Sebenarnya apa yang terjadi? Siapa yang meninggal?” Akupun melepas pelukan Naumi dan mulai melangkah mendekati mayat itu. Aku langsung terdiam saat aku membuka kain yang menutupi mayat tersebut, sungguh tak kuduga mayat itu mayat umi. Aku mulai meneteskan air mata begitu deras, kupandangi wajah umi yang telah kaku dan tak berdaya, kulihat seluruh tubuhnya yang telah di bungkus kain kafan putih, aku benar –benar tidak bisa membayangkan umi telah tiada, padahal aku akan menceritakan kemenangan ini pada umi, dan aku berjanji besok akan memberikan umi hadiah hari ibu. Tapi nampaknya  aku tidak di beri kesempatan oleh Allah, umi telah lebih dulu pergi meninggalkan aku. Lalu apa yang bisa kulakukan ya Allah?

          “Kamu yang sabar ya Fin tante juga merasa kehilangan, kita semua di sini sama-sama sedih mungkin ini jalan yang di berikan oleh Allah pada kita semua”

          “Tapi kenapa sekarang tante? Padahal Fina baru saja ingin menceritakan kemenangn Fina, kenapa tante?” Tanya ku dengan muka yang berlinangan air mata.

          “Tante tau Fin, tapi inilah jalan yang Allah berikan pada kita, abi juga merasa kehilangan, tante, begitu juga yang lainnya tapi kita tidak boleh berlarut-larut dalam kesedihan, kamu masih bisa berbakti pada umimu dengan cara mendo’akannya, do’a anak sholeh lah yang akan menyelamatkan umimu di sana”

          “Baiklah tante aku akan selalu berdo’a untuk umi dimanapun dan kapanpun, sepertu yang umi bilang terakhir kali padaku, umi akan selalu mendo’akan Fina dimanapun dan kapanpun. Tak kusangka itu kata-kata terakhir yang akan terucap dari mulut manis umi.”

          Saat umi hendak di kuburkan aku ingin membacakan surat dan puisi yang rencananya akan kubacakan pada hari ibu besok, namun lebih baik kubacakan sekarang saja. Tak kusangka hari ibu tahun ini akan berakhir begini, umi percayalah aku akan selalu mendo’akanmu.
Surat untuk umi
...

Umi, seorang wanita tangguh umi lah seorang wanita yang akan selalu ku idolakan sepanjang masa, umi bagaikan seorang mujahid umi berhasil melahirkan aku mengeluarkan aku dari rahim, aku tahu betapa susahnya melahirkan aku, oleh karena itu aku ingin menjadi anak yang berbakti pada orang tua terlebih lagi pada umi, aku sering menunda-nunda perintah umi, aku sering membantah pada umi, aku memang tidak akan pernah bisa membalas jasa umi walaupun aku berjalan mengelilingi dunia dengan kaki ku sendiri, jadi aku minta maaf atas segala kesalahan ku pada umi, aku berjanji akan menjadi anak kebanggaan umi selamanya, selamat hari ibu yaaa...umi ku tercinta I LOVE U UMI...^_^ ada puisi yang ku buat khusus untuk umi
Puisi untuk umi..


Walau kau memikul banyak beban

Tapi kau tetap tangguh dan tegar

Kau rela korbankan nyawamu untuk ku

     Kaulah sang idola, Idola sepanjang masa

     Bagaikan udara untuku , membuat ku hidup selamanya

     Bagaikan sang petuah, kau menasihati ku selalu

 Kau bagaikan oksigen dalam hidup ku

Tanpa mu nafas ini serasa sesak

Bagaikan hidup di luar angkasa

     Kau membuat ku bahagia

     Hati senang melihat senyuman yang terukir di wajah mu

     Wahai umi, aku menyayangi mu....























Tidak ada komentar:

Posting Komentar