Senjapun datang,
kupandangi langit oranye kekuningan yang indah itu, gradasi warna-warna nan
elok. Senja memang waktu yang indah dimana tenggelamnya pelita dunia ini, waktu
dimana bergantinya antara malam dan siang, dan pastinya waktu untuk melaksanakan
sholat maghrib.
Senjapun berganti malam, jam
menunjukkan pukul 18.30, setelah menunaikan solat maghrib, saatnya perut ini
untuk diisi, kaki mungilku melangkah menuruni tangga menuju ke ruang makan,
disana keluargaku sudah berkumpul.
“Ayo makan malam!!” Seru Abi pada kami
semua.
“Iya Abi.” Jawabku.
Kami sekeluarga menikmati rezeki yang
telah Allah berikan pada kami, syukron ya Allah Engkau masih memberikan kami
nikmat yang berlimpah, hamba tau masih banyak orang di luar sana yang tak
seberuntung hamba, umi selalu mengingatkan itu padaku.
Oh iya! Sebelumnya perkenalkan namaku
Zafina El-Arish, lahir di Balikpapan tanggal 13 september 2001, dan
beruntungnya aku punya kedua orang tua yang selalu sayang padaku,
alhamdulillah. Mereka berdua yang selalu mengisi hari-hariku dan mengisi relung-relung
hatiku saat sedih, mereka jugalah yang selalu memberikanku motivasi di saat aku
terjatuh. Terutama umi, beliau selalu mengingatkanku jika salah, mengajarkanku
saat aku tak tahu, dan membantuku menghadapi kesulitan. Walaupun sering membuat
beliau marah, beliau tetap menyayangiku. Sekarang aku duduk di bangku SMP kelas
7A. Kata orang aku termaksud golongan orang-orang cerdas dan pintar, tapi
menurutku biasa aja sih. ^^
***
Waktu terus berjalan fajarpun tiba,
jam weker ungu milikku berbunyi nyaring, pertanda waktu untuk bangun dari
tidur.
Kringggg!!!!!!!!!!!!!!
“Huah..Udah jam lima nih! Sholat subuh
dulu deh!” Seruku.
Ku basuh wajahku dengan air keran
dikamar mandi kamar, kusucikan diri dengan berwudhu. Ternyata umi telah
menunggu di musholla kecil rumah kami. Kudirikan sholat subuh dengan khusyuk
bersama dengan umi, tentu saja abi pergi ke masjid. Tak lupa kupanjatkan do’a
usai sholat.
“Ya Allah berilah hamba Mu ini
kemudahan dalam hal apapun, jadikanlah semua yang sulit menjadi mudah selagi
itu masih tetap di jalan Mu, lancarkanlah rezeki dan berilah kepanjangan umur
bagi orang tua hamba, dan berilah hamba kesempatan untuk bisa berbakti pada
mereka terutama pada umi. Aamiin~.”
Saat pagi menjelang, aku segera
mempersiapkan buku-buku pelajaran sekolah dan lekas mandi. Diruang makan nampak
abi dan umi sudah berkumpul, pagi itu umi memasakkan nasi goreng seafood
kesukaanku dan abi, rasanya fantastic!!! Enaaaaaak banget!!! Selesai menyantap
sarapan aku dan abi berangkat bersama. Abi yang selalu mengantarku ke sekolah
tiap pagi begitu juga yang menjemput saat pulang sekolah. Sesibuk-sibuknya di
kantor, abi pasti selalu menyempatkan waktu untuk menjemputku.
Tiba di sekolah aku langsung pergi
menuju kelas melewati koridor sekolah yang panjang. Tapi nampaknya di papan
pengumuman sekolah ada pengumuman yang baru ditempel, rasa penasaranku muncul. Sebaiknya aku
melihatnya terlebih dahulu.
“Ada apa sih ramai-ramai??” Tanyaku
keheranan melihat kerumunan anak-anak berdiri di papan pengumuman.
“Itu loh Fin, ada lomba olimpiade IPA
se-Balikpapan tingkat SMP, kamu wajib ikut Fin, kamu kan pinter tuh!” Jawab
Naumi, teman sekelas sekaligus teman sebangkuku.
“Apaan sih Naumi! Males ah ikut
begituan.” Balas ku cuek sembari meninggalkan Naumi menuju kelas.
“Lumayan loh hadiahnya, duit Fin, duit!!”
Kata Naumi meyakinkan.
Aku sedikit ragu untuk mengikuti lomba
itu atau tidak. “Nanti deh aku coba daftar.”
“Tanpa daftarpun, pasti kamu diterima,
secara Zafina anak terpintar di kelas 7A, bintang kelas cuy!” Seru Naumi membanggakan diriku.
“Iya Naumi, cerewet deh!”
Tak lama setelah aku dan Naumi masuk
kelas, bel pelajaran pertama berbunyi. “Kringgg!!!!!!!” Aku dan siswa/siswi lain
segera mempersiapkan buku kami dan memulai pelajaran. Tiga jam kemudian jam pelajaran
pertama usai, aku dan Naumi bergegas pergi ke kantin.
“Mang, mie ayamnya dua estehnya juga
dua yaa!!” Pesan Naumi.
“Siip neng!” Pak Somat mengacungkan
jempol kearah kami.
“Seru juga ya kalau bisa menang terus
dapatin hadiahnya, yaaa.. Lumayan lah buat bisa tambah-tambah uang jajan, oh
iya! Bentar lagikan hari ibu kalau aku bisa menang berarti aku bisa beliin umi
hadiah, wahh.. Pasti umi bangga deh sama aku” gumamku.
Aku tidak menyadari kalau Pak Somat
datang dengan membawa pesanan kami, tampak mie ayam tersebut masih panas,
karena asap yg mengepul dari kuahnya sangat banyak. “Ini neng pesanannya” kata
Pak Somat si penjual di kantin, sembari menaruh mangkuk mie ayam di meja kami.
“Fin? Woy! Pesanannya udah datang
tuh!” Seru Naumi sambil menepuk pundakku.
“Eh? Kenapa?” Tanyaku yang baru
tersadar dari khayalku.
“PESANANNYA UDAH DATANG!!!” Jawab
Naumi dengan nada yang cukup tinggi.
“Biasa aja donk!”
“Habisnya kamu melamun terus sih!”
“Iya, ya udah deh kita makan yuk!”
Pulang sekolah aku langsung menuju ke
kamarku yang serba ungu, usai berganti baju aku langsung turun dan membantu umi
beres-beres rumah dan mempersiapkan makan malam.
“Umi! Fina bantu ya?” Tawarku pada
umi.
Umi tersenyum lembut. “Boleh, Fina
nyapu aja yaa.. Nanti kalau udah, susul umi ke dapur kita siapin makan malam.”
“Iya umi.” jawabku.
Tiap hari aku selalu membantu umi
seusai sekolah beres-beres rumah, menyiapkan makan malam. Semua yang bisa aku
bantu ya.. Aku kerjakan, karena aku ingin sekali menjadi anak yang berbakti
pada orang tua terlebih lagi pada umi. Nah! Sebentar lagikan hari ibu aku ingin
sekali memberikan hadiah pada umi, setelah kupikir-pikir besok aku akan
mendaftar untuk ikut lomba Olimpiade IPA, aku harap aku bisa lolos dan menjadi
juara. Aamiin~
***
Keesokan harinya di sekolah aku pergi
menemui Pak Mujito untuk mendaftarkan diri. Aku harap aku bisa ikut lomba itu,
karena tidak semua bisa ikut. Sebelumnya harus diadakan tes tentang materi yg
dilombakan. Yang mendapat nilai tes terbaik, maka dialah yang akan dipilih
sekolah untuk menjadi wakil dalam lomba olimpiade IPA. Ternyata banyak juga
yang berminat mengikuti tes, Pak Mujito sampai bingung mengatur anak-anak yang
mendaftarkan diri.
“Aku harus bisa ikut, aku pasti bisa
demi umi!! Cayoo”. Sugestiku dalam hati.
Tespun aku lakukan. Pengumumannya akan
di tempelkan di papan pengumuman. Keluar dari ruangan tes aku merasa gugup, “Bisa
gak ya? Tapi aku gak boleh pesimis seorang Zafina El-Arish pasti mampu
melakukannya!”.
Hasil tes pun telah selesai, Pak
Mujito mengumumkan bawah hasil tes dapat dilihat di papan pengumuman melalui
speaker sekolah. Aku dan Naumi pergi bersama ke koridor sekolah untuk melihat
pengumumannya, aku sangat berharap namaku tercantum di dalamnya. Aku membiarkan
Naumi yang melihat papan pengumuman terlebih dahulu. “Apakah ada namaku yang
tercantum di dalamnya?” Tanyaku pada Naumi.
Naumi berbalik dan tersenyum puas,
diapun berlari kearahku. “Selamat ya Zafina, kamu memang hebat!” Seru Naumi
sambil mengacungkan jempolnya padaku. Mataku mulai berair dan meneteskan air
mata. Tak kusangka dari tiga kelas yg mendaftar akulah yang terpilih,
Alhamdulillah.... Akupun mulai bernafas lega. Kini saatnya mempersiapkan diri
untuk mengikuti olimpiade IPA itu. Perjalanan pulang sekolah aku terus mengukir
senyum di wajahku, akan kuceritakan berita gembira ini pada umi.
“Asslamualaikum..Umi...Umi..”
Panggilku dari luar. Aku sangat tidak sabar memberitahu umi.
Wajah umi muncul dari dalam, “Waalaikumsalam,
wah! Anak umi terlihat bahagia sekali, ada apa?”
Aku berlari memeluk umi. “Umi Fina
berhasil, Fina bisa ikut lomba olimpiade IPA se-Balikpapan tingkat SMP, Fina
hebat kan??”
“Wah, alhamdulillah. Iya anak umi
memang paling hebat! Salut Umi! Kalau begitu mulai sekarang Fina harus mulai sungguh-sungguh
dalam belajar, kalau Fina ikutin syarat-syarat umi, insyaAllah Fina menang deh!”
“Iya deh umi Fina bakal jadi anak
sholeh, mulai bekerja keras, dan sungguh-sungguh dalam belajar, Fina akan
menjadi yang terbaik dan Fina ingin jadi anak kebanggaan umi. Fina janji!”
Malam tiba akupun mulai membuka-buka
buku IPA, kupelajari beberapa materi yang kira-kira akan keluar pada saat
Olimpiade. Aku sudah janji pada umi akan memberikan yang terbaik dan menjadi
anak kebanggaan umi, aku harus menepati janjiku itu.
***
Waktu terus berjalan hari-demi hari ku
lewati hingga hari yang kutunggu-tunggupun datang. Yup! Hari dimana olimpiade
itu berlangsung. Sebelum pergi, aku lebih dulu meminta do’a pada umi.
“Umi hari ini insyaAllah Fina akan jadi yang
terbaik dan Fina janji akan menang untuk umi, jadi do’ain Fina ya...”
Umi memeluk dan mengecup kepalaku
lembut. “Fina gak harus menang cukup dengan berusaha yang terbaik aja umi sudah
senang Allah tau yang mana yang lebih baik, Allah melihat dari usaha
manusia jadi kita tinggal berusaha saja,
hasilnya Allah yang akan menentukan Allah akan memberikan keputusan yang
terbaik untuk Fina, umi akan selalu mendo’akan Fina kapanpun dan dimanapun
pasti!”
Setelah mendapatkan do’a dan beberapa
motivasi aku jadi lebih percaya diri. Kulangkahkan kaki mungil ini dengan
langkah yang pasti dan percaya diri. Sampai di tempat lomba aku mulai tegang
tapi aku langsung teringat kata-kata yang di ucapkan umi padaku. Sesi pertama
lomba masih dalam bentuk tanya jawab di kertas, nanti yang mendapat nilai tertinggi
yang akan masuk ke final. Seiring berjalannya waktu kujawab semua pertanyaan
itu dengan pasti hingga semua soal telah ku jawab. Aku menunggu pengumuman
siapa yang masuk ke final. Tak kusangka setelah aku melihatnya namaku tercantum
dalam lembar pengumuman. “Alhamdulillah aku masuk final!!!” Semi final diadakan
hari itu juga. Sesi kedua adalah sistem cerdas cermat, aku merasa deg-degan
tapi aku gak boleh pesimis, babak pertama telah kujalani dengan baik maka yang
kedua juga harus yang terbaik!
Hingga tiba saatnya pertanyaan terakhir
di bacakan aku harap aku bisa menang karena ada anak yang skornya sama dengan
aku, karena itu ini adalah pertanyaan penentu siapa yang lebih cepat menjawab
maka dialah pemenangnya. Dengan Bismillah aku mulai menyimak pertanyaan
tersebut dan detik-detik terakhir aku langsung cepat menekan bel dan mulai menjawabnya,
ternyata jawabanku benar!!!!!!!!! Saat itu aku meneteskan air mata aku berhasil
menepati janjiku pada umi. Namaku dipanggil keatas panggung untuk menerima
hadiah berupa piala dan uang tunai yang jumlahnya memuaskan bagi seumuranku.
Berita gembira ini akan kubawa pulang dan kuceritakan pada umi. Beberapa menit
kemudian abi datang untuk menjemputku.
“Abi!!! Lihat aku berhasil! Aku menang
juara satu abi!!” Seruku sambil memamerkan pialaku pada abi.
“Wah anak abi hebat! Kalau gitu kita
pulang yuk!” Abi tersenyum bangga kearahku. Dia langsung membukakan pintu mobil
agar aku bisa masuk kedalamnya.
“Tunggu abi, aku mau mampir dulu beli hadiah
untuk umi.” Cegahku.
Abi diam beberapa saat, wajahnya tidak
menampakkan senyum ceria seperti tadi lagi. “Kita langsung pulang aja ya..”
“Loh abi? Kenapa? Mampir bentar aja
ya..” Tanyaku bingung melihat sikap abi. Kenapa abi tidak membiarkan aku
membeli hadiah buat umi?
“Gak usah ya Fina” kata abi halus.
Dengan perasaan kecewa aku melangkah
menuju mobil, kenapa tidak boleh? Kan niat ku baik? Apa abi sedang sibuk
sehingga harus cepat kembali kekantor? Gumamku dalam hati. Ya sudah deh besok
saja, kan hari ibunya besok, aku akan mempersiapkan baik-baik rencanaku ini. Aku
akan membantu umi, memasakkan umi masakan yang umi suka, yang terakhir aku akan
beri umi hadiah yang kubeli dari hasil jerih payahku sendiri wah! Pasti umi
senang deh!
Sesampainya aku dirumah, aku merasa
ada yang aneh. Kenapa rumahku ramai sekali? Kenapa ada bendera kuning di
mana-mana? Ya Allah apa ini? Akupun turun dari mobil, kuperhatikan orang-orang
di sekitarku mereka memakai baju serba hitam dan memandangiku. Aku juga mendengar
suara tangisan dari dalam rumah dan lantunan surat Yasin.
“Ada apa ini? Siapa yang meninggal?
Loh Naumi kok ada di sini?” Tanyaku heran campur panik.
“Yang tabah ya Fin, kamu harus selalu
semangat” kata Naumi sambil memelukku.
“Sebenarnya apa yang terjadi? Siapa
yang meninggal?” Akupun melepas pelukan Naumi dan mulai melangkah mendekati
mayat itu. Aku langsung terdiam saat aku membuka kain yang menutupi mayat
tersebut, sungguh tak kuduga mayat itu mayat umi. Aku mulai meneteskan air mata
begitu deras, kupandangi wajah umi yang telah kaku dan tak berdaya, kulihat
seluruh tubuhnya yang telah di bungkus kain kafan putih, aku benar –benar tidak
bisa membayangkan umi telah tiada, padahal aku akan menceritakan kemenangan ini
pada umi, dan aku berjanji besok akan memberikan umi hadiah hari ibu. Tapi
nampaknya aku tidak di beri kesempatan
oleh Allah, umi telah lebih dulu pergi meninggalkan aku. Lalu apa yang bisa
kulakukan ya Allah?
“Kamu yang sabar ya Fin tante juga
merasa kehilangan, kita semua di sini sama-sama sedih mungkin ini jalan yang di
berikan oleh Allah pada kita semua”
“Tapi kenapa sekarang tante? Padahal
Fina baru saja ingin menceritakan kemenangn Fina, kenapa tante?” Tanya ku
dengan muka yang berlinangan air mata.
“Tante tau Fin, tapi inilah jalan yang
Allah berikan pada kita, abi juga merasa kehilangan, tante, begitu juga yang
lainnya tapi kita tidak boleh berlarut-larut dalam kesedihan, kamu masih bisa
berbakti pada umimu dengan cara mendo’akannya, do’a anak sholeh lah yang akan
menyelamatkan umimu di sana”
“Baiklah tante aku akan selalu berdo’a
untuk umi dimanapun dan kapanpun, sepertu yang umi bilang terakhir kali padaku,
umi akan selalu mendo’akan Fina dimanapun dan kapanpun. Tak kusangka itu
kata-kata terakhir yang akan terucap dari mulut manis umi.”
Saat umi hendak di kuburkan aku ingin
membacakan surat dan puisi yang rencananya akan kubacakan pada hari ibu besok,
namun lebih baik kubacakan sekarang saja. Tak kusangka hari ibu tahun ini akan
berakhir begini, umi percayalah aku akan selalu mendo’akanmu.
Surat
untuk umi...
Umi, seorang wanita tangguh umi lah seorang
wanita yang akan selalu ku idolakan sepanjang masa, umi bagaikan seorang
mujahid umi berhasil melahirkan aku mengeluarkan aku dari rahim, aku tahu
betapa susahnya melahirkan aku, oleh karena itu aku ingin menjadi anak yang berbakti
pada orang tua terlebih lagi pada umi, aku sering menunda-nunda perintah umi,
aku sering membantah pada umi, aku memang tidak akan pernah bisa membalas jasa
umi walaupun aku berjalan mengelilingi dunia dengan kaki ku sendiri, jadi aku
minta maaf atas segala kesalahan ku pada umi, aku berjanji akan menjadi anak
kebanggaan umi selamanya, selamat hari ibu yaaa...umi ku tercinta I LOVE U
UMI...^_^ ada puisi yang ku buat khusus untuk umi
Puisi
untuk umi..
Walau kau memikul banyak beban
Tapi kau tetap tangguh dan tegar
Kau rela korbankan nyawamu untuk ku
Kaulah
sang idola, Idola sepanjang masa
Bagaikan
udara untuku , membuat ku hidup selamanya
Bagaikan
sang petuah, kau menasihati ku selalu
Kau
bagaikan oksigen dalam hidup ku
Tanpa mu nafas ini serasa sesak
Bagaikan hidup di luar angkasa
Kau
membuat ku bahagia
Hati
senang melihat senyuman yang terukir di wajah mu
Wahai
umi, aku menyayangi mu....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar